JAKARTA - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Farmasi Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal (ISTA) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk "Inovasi Interdisipliner untuk Proteksi Kesehatan dan Teknologi".
Acara yang berlangsung di Kampus ISTA, Kamis (22/1/2026), ini menjadi wadah diskusi ilmiah yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk membedah potensi kekayaan alam Indonesia melalui kacamata teknologi mutakhir.
Rektor ISTA, Kusnadi, S.Sn, M.Ds., M.I.Kom., dalam sambutannya mengapresiasi sinergi antara lembaga riset dan organisasi mahasiswa ini. Ia menekankan bahwa tantangan kesehatan global saat ini memerlukan pendekatan yang tidak linier.
"Kolaborasi ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kunci. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa, namun tanpa intervensi teknologi yang tepat, potensinya tidak akan maksimal untuk proteksi kesehatan masyarakat," ujar Rektor saat membuka acara.
Senada dengan itu, Ketua LPPM ISTA, Apt. In Rahmi F F, M.Farm., berharap kegiatan ini dapat memantik semangat riset di kalangan mahasiswa farmasi untuk lebih jeli melihat peluang eksplorasi bahan alam.
Dari Fitoestrogen hingga Teknologi Radiasi
Kuliah umum ini menghadirkan tiga narasumber ahli yang memaparkan materi secara komprehensif. Sesi pertama dibuka oleh Dr. apt. Kurnia Agustini, M.Si., yang mengupas tuntas "Fitoestrogen Dari Tanaman Obat Indonesia". Dalam paparannya, Kurnia menyoroti bagaimana tanaman asli nusantara menyimpan potensi besar sebagai agen antikanker, pencegah osteoporosis, hingga anti-aging, menawarkan solusi alami di tengah maraknya penyakit degeneratif.
Diskusi semakin menarik saat memasuki sesi teknologi yang dibawakan oleh Dr. Hendig Winarno, M.Sc. Beliau memperkenalkan "Teknologi Radiasi untuk Pengawetan Obat Bahan Alam". Hendig memaparkan terobosan metode radiasi yang mampu menjaga kualitas simplisia dan bahan obat, sebuah inovasi krusial untuk standar industri farmasi modern.
Melengkapi wawasan peserta, Antoni Pardede, M.Si., Ph.D., menutup sesi materi dengan topik "Eksplorasi Senyawa Metabolit Sekunder". Ia mengajak mahasiswa menelusuri jejak alam yang dapat dikonversi menjadi teknologi kesehatan bernilai tinggi.
Antusiasme peserta terlihat jelas pada sesi diskusi. Mahasiswa dan dosen aktif bertukar pikiran mengenai tantangan hilirisasi riset bahan alam. Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan sertifikat apresiasi dan sesi foto bersama, menandai komitmen bersama civitas akademika ISTA dalam memajukan riset kesehatan nasional.
(Humas ISTA)